Puasa Ramadan 2026: Prediksi Pemerintah, NU, Muhammadiyah

By

Tim Redaksi

20 Januari 2026.

Merencanakan agenda ibadah jauh-jauh hari merupakan langkah bijak bagi umat Islam yang ingin memaksimalkan pertemuan dengan bulan suci. Antusiasme menyambut bulan penuh ampunan sering kali memunculkan pertanyaan besar mengenai kapan tepatnya 1 Ramadan akan jatuh pada tahun-tahun mendatang, termasuk untuk tahun 2026. Meskipun kalender masehi umum digunakan, penetapan awal bulan dalam kalender Hijriah memiliki mekanisme unik yang melibatkan perpaduan antara perhitungan astronomis dan pengamatan langsung di lapangan.

Banyak masyarakat yang mungkin belum menyadari bahwa siklus tahun Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibandingkan tahun Masehi. Hal ini menyebabkan bulan Ramadan selalu maju setiap tahunnya dalam perspektif kalender umum. Jika pada tahun-tahun sebelumnya puasa dimulai pada bulan Maret atau April, tren pergeseran waktu menunjukkan bahwa Ramadan 2026 diprediksi akan memasuki pertengahan bulan Februari. Pergeseran ini tentunya mempengaruhi persiapan fisik dan mental, mengingat kondisi cuaca dan musim yang mungkin berbeda.

Ketertarikan terhadap hitung mundur ini bukan sekadar soal tanggal, melainkan berkaitan erat dengan persiapan qadha puasa bagi yang masih memiliki utang, serta pengaturan cuti atau libur Lebaran. Informasi mengenai prediksi tanggal ini sering kali dicari untuk menyelaraskan jadwal pekerjaan dan kegiatan keagamaan. Namun, perlu dipahami bahwa terdapat perbedaan metode dalam penetapan awal bulan yang sering kali memunculkan potensi perbedaan tanggal antara organisasi Islam besar dan keputusan pemerintah.

Prediksi Awal Ramadan 1447 H (Tahun 2026 M)

Berdasarkan perhitungan astronomis atau ilmu hisab, posisi bulan dapat diprediksi jauh sebelum waktunya tiba. Untuk tahun 2026 Masehi, yang bertepatan dengan tahun 1447 Hijriah, data astronomi menunjukkan bahwa ijtimak (konjungsi) jelang Ramadan kemungkinan besar terjadi pada pertengahan Februari. Para ahli astronomi Islam telah melakukan proyeksi mengenai visibilitas hilal pada periode tersebut.

Secara matematis, 1 Ramadan 1447 H diprediksi akan jatuh pada kisaran tanggal 17 atau 18 Februari 2026. Tanggal ini tentu masih bersifat estimasi sementara (hisab) dan belum menjadi keputusan final yang mengikat secara kenegaraan. Kepastian mutlak tetap menunggu hasil pengamatan langsung yang akan divalidasi melalui forum resmi pemerintah.

Berikut adalah tabel proyeksi awal puasa berdasarkan metode yang umum digunakan oleh berbagai entitas di Indonesia:

Baca Juga:  7 Syarat KUR BRI Tanpa Jaminan 2026: Modal Usaha Anti Ribet, Bunga Cuma 6%!
Entitas / OrganisasiMetode PenetapanEstimasi Tanggal (Prediksi)
MuhammadiyahHisab Hakiki Wujudul Hilal17 – 18 Februari 2026 (Menunggu Maklumat Resmi)
Nahdlatul Ulama (NU)Rukyatul Hilal & Imkanur RukyatMenunggu hasil Rukyat & Sidang Isbat
Pemerintah (Kemenag)Sidang Isbat (Gabungan Hisab & Rukyat)Menunggu Sidang Isbat Februari 2026
Catatan Penting: Tanggal di atas adalah hasil perhitungan kasar astronomis. Keputusan final tetap merujuk pada kebijakan masing-masing institusi saat hari H.

Tabel di atas memperlihatkan bahwa meskipun ada prediksi tanggal, mekanisme penetapan yang berbeda membuat kepastian tanggal bisa saja seragam atau berbeda satu hari. Hal ini merupakan dinamika yang wajar terjadi di Indonesia dan telah diakomodasi dengan baik oleh toleransi masyarakat.

Mekanisme Sidang Isbat dan Kriteria MABIMS

Sering kali muncul pertanyaan mengapa pemerintah tidak menetapkan tanggal jauh-jauh hari seperti yang tertera di kalender dinding. Jawabannya terletak pada prosedur standar yang dianut oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Pemerintah menggunakan metode “rukyatul hilal” yang diverifikasi melalui Sidang Isbat. Sidang ini biasanya digelar pada tanggal 29 Syaban setiap tahunnya untuk menentukan apakah esok hari sudah masuk 1 Ramadan atau harus digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.

Dalam proses ini, kriteria baru MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) memegang peranan vital. Kesepakatan ini menetapkan syarat minimal visibilitas hilal untuk bisa dianggap sah sebagai awal bulan baru, yaitu:

  • Ketinggian Hilal: Minimal 3 derajat.
  • Elongasi (Jarak Sudut Bulan-Matahari): Minimal 6,4 derajat.

Jika pada saat pemantauan di tahun 2026 nanti posisi bulan belum memenuhi kriteria tersebut meskipun sudah berada di atas ufuk, maka pemerintah dan NU kemungkinan besar akan membulatkan bulan Syaban menjadi 30 hari. Sebaliknya, jika data hisab menunjukkan posisi bulan sudah tinggi dan memenuhi syarat, serta didukung oleh laporan rukyat, maka awal puasa akan ditetapkan pada keesokan harinya.

Perbedaan Metode Muhammadiyah dan NU

Memahami perbedaan metode sangat penting untuk menghindari kebingungan di masyarakat. Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal. Prinsip utamanya adalah asalkan bulan sudah mengalami konjungsi (ijtimak) sebelum matahari terbenam dan posisi bulan saat matahari terbenam berada di atas ufuk (berapapun tingginya), maka esok hari sudah masuk bulan baru. Metode ini memungkinkan Muhammadiyah untuk menyusun kalender hingga puluhan tahun ke depan, termasuk menetapkan tanggal pasti untuk Ramadan 2026.

Baca Juga:  UMR Jakarta 2026 Resmi Naik, Ini Nominal dan Perbandingan 5 Tahun

Di sisi lain, Nahdlatul Ulama (NU) berpegang teguh pada metode Rukyatul Hilal yang dipadukan dengan kriteria Imkanur Rukyat (kemungkinan hilal bisa dilihat). Bagi NU, hisab (perhitungan) berfungsi sebagai alat bantu pendahuluan, namun penentu utamanya adalah bukti empiris berupa keterlihatan bulan sabit muda secara fisik atau melalui alat optik. Oleh karena itu, warga NU umumnya menunggu pengumuman resmi dari PBNU atau hasil Sidang Isbat pemerintah pada malam penetapan.

Potensi perbedaan awal puasa di tahun 2026 akan sangat bergantung pada posisi bulan saat matahari terbenam di akhir Syaban 1447 H. Jika posisi bulan berada di antara 0 hingga kurang dari 3 derajat, besar kemungkinan akan terjadi perbedaan: Muhammadiyah sudah mulai berpuasa karena bulan sudah wujud (ada), sedangkan Pemerintah dan NU menggenapkan bulan Syaban karena hilal belum memenuhi syarat visibilitas MABIMS.

Kewajiban Puasa dan Landasan Dalil

Terlepas dari perbedaan penentuan tanggal, esensi utama dari bulan Ramadan adalah pelaksanaan ibadah puasa itu sendiri. Perintah ini merupakan rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang telah baligh dan berakal sehat. Kewajiban ini memiliki landasan hukum yang sangat kuat dalam Al-Quran, tepatnya pada Surat Al-Baqarah ayat 183.

Ayat tersebut menegaskan bahwa puasa diwajibkan kepada orang-orang beriman sebagaimana telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu. Tujuan akhirnya sangat jelas tertuang di akhir ayat, yaitu “la’allakum tattaqun” atau agar menjadi pribadi yang bertakwa. Takwa di sini mencakup dimensi spiritual (hubungan dengan Allah) dan dimensi sosial (kesalehan terhadap sesama).

Selain menahan lapar dan dahaga, puasa juga melatih pengendalian diri dari segala hawa nafsu. Momentum Ramadan 2026 nanti hendaknya tidak hanya disambut dengan persiapan logistik, tetapi juga persiapan spiritual. Pemahaman mengenai fiqih puasa, hal-hal yang membatalkan, serta amalan sunnah menjadi bekal penting agar ibadah tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan tanpa makna.

Qadha Puasa dan Ketentuan Fidyah

Menjelang datangnya Ramadan 2026, satu hal yang sering terlewatkan adalah pelunasan utang puasa tahun sebelumnya. Bagi mereka yang pernah meninggalkan puasa karena alasan syar’i seperti sakit, haid, nifas, atau dalam perjalanan jauh (musafir), wajib hukumnya untuk mengganti (qadha) puasa tersebut di hari lain di luar bulan Ramadan.

Batas akhir pembayaran utang puasa ini adalah sebelum masuknya bulan Ramadan berikutnya. Jika seseorang lalai tidak menggantinya hingga Ramadan baru tiba padahal ia mampu, maka ia berdosa dan tetap wajib menggantinya setelah Ramadan usai. Berikut adalah ringkasan ketentuan penggantian puasa:

  1. Qadha (Mengganti Puasa): Wajib bagi orang yang sakit (diharapkan sembuh), musafir, wanita haid, dan nifas. Caranya dengan berpuasa sejumlah hari yang ditinggalkan.
  2. Fidyah (Membayar Denda): Berlaku bagi orang yang tidak mampu berpuasa secara permanen, seperti orang tua renta yang lemah fisik atau orang sakit menahun yang tidak ada harapan sembuh. Fidyah dibayarkan dengan memberi makan fakir miskin.
  3. Ibu Hamil dan Menyusui: Terdapat perbedaan pendapat ulama, namun mayoritas memperbolehkan memilih antara qadha saja atau qadha ditambah fidyah tergantung pada kekhawatiran terhadap diri sendiri atau bayinya.
Baca Juga:  Rahasia Lolos Stakes Kesehatan TNI 2026: Syarat Gigi & Mata Minus Terbaru!

Penting untuk mencatat dan melunasi kewajiban ini sesegera mungkin. Bulan Syaban sering disebut sebagai bulan “penutupan buku” di mana umat Islam berlomba-lomba menyelesaikan qadha puasa sebelum gerbang Ramadan benar-benar dibuka.

Mitos vs Fakta Seputar Penetapan Ramadan

Di era informasi digital, banyak beredar kabar simpang siur mengenai penetapan awal puasa. Salah satu mitos yang sering muncul adalah anggapan bahwa kalender cetak yang beredar di pasaran adalah keputusan final pemerintah. Faktanya, tanggal merah atau penanda awal Ramadan di kalender umum hanyalah prediksi hisab. Tanggal tersebut bisa berubah sesuai dengan hasil keputusan Sidang Isbat.

Ada pula anggapan bahwa perbedaan awal puasa menunjukkan ketidakkompakan umat Islam. Padahal, perbedaan ini murni bersifat ijtihadiyah dalam ranah fiqih astronomi. Baik metode hisab maupun rukyat memiliki landasan dalil yang kuat dan diakui dalam khazanah keilmuan Islam. Menghormati perbedaan adalah kunci ukhuwah islamiyah.

Selain itu, klaim yang menyatakan bahwa puasa harus mengikuti ketetapan Arab Saudi secara mutlak juga perlu diluruskan. Indonesia memiliki matla’ (wilayah hukum keterlihatan bulan) yang berbeda dengan Arab Saudi karena perbedaan letak geografis. Oleh karena itu, wajar jika awal puasa di Indonesia bisa sama atau berbeda dengan negara-negara Timur Tengah.

Persiapan Menuju 2026

Mengetahui prediksi hitung mundur menuju Ramadan 2026 memberikan keuntungan dalam menyusun strategi ibadah dan kehidupan sehari-hari. Masih ada waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkan diri, baik dari segi keilmuan maupun finansial untuk sedekah dan zakat. Bulan Rajab dan Syaban yang mendahului Ramadan nanti dapat dijadikan ajang pemanasan (warming up) melalui puasa sunnah.

Semoga kita semua diberikan umur panjang dan kesehatan untuk bisa berjumpa dengan Ramadan 1447 H di tahun 2026 mendatang. Mari jadikan setiap detik penantian ini sebagai motivasi untuk terus memperbaiki kualitas diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Sang Pencipta. Persiapkan diri sejak dini, lunasi utang puasa yang tertinggal, dan sambut bulan suci dengan hati yang bersih.

Related Post