Munculnya angka ‘Desil’ di aplikasi cek bantuan sosial (bansos) sering kali memicu rasa penasaran sekaligus kekhawatiran di tengah masyarakat. Pada Rabu, 21 Januari 2026, topik mengenai apakah angka 1 hingga 10 ini benar-benar menentukan nasib penerima bantuan kembali hangat diperbincangkan.
Kementerian Sosial (Kemensos) telah memberikan penegasan mengenai sistem ini. Desil merupakan sistem peringkat kesejahteraan keluarga yang menjadi acuan utama pemerintah dalam menetapkan kelayakan penerima berbagai program, mulai dari Program Keluarga Harapan (PKH) hingga subsidi listrik.
Sistem ini sengaja dirancang agar bantuan tepat sasaran. Fokus utamanya adalah menyasar 40% penduduk Indonesia dengan tingkat kesejahteraan terendah yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Membedah Apa Itu Desil dalam DTKS
Secara sederhana, desil adalah pembagian penduduk menjadi 10 kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan ekonomi. Istilah ini diadopsi dari kata ‘decile’ dalam ilmu statistik yang berarti memecah data menjadi 10 bagian sama besar.
Dalam konteks DTKS, semakin kecil angka desil, semakin rendah tingkat kesejahteraan suatu keluarga. Desil 1 mewakili 10% penduduk termiskin, sedangkan Desil 10 merepresentasikan 10% penduduk paling sejahtera.
Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan Kemensos mengembangkan sistem ini melalui survei komprehensif. Puluhan indikator dihitung dengan bobot tertentu, mulai dari kondisi rumah, aset, akses kesehatan, pendidikan, hingga pekerjaan kepala keluarga untuk menghasilkan skor akhir.
Mekanisme Penentuan Skor Desil Keluarga
Penentuan desil tidak dilakukan sembarangan, melainkan melalui survei besar-besaran bernama Pemutakhiran Basis Data Terpadu (PBDT) oleh BPS. Petugas melakukan kunjungan langsung atau door-to-door ke rumah warga.
Kuesioner digital yang diisi mencakup lebih dari 40 pertanyaan detail. Data yang terkumpul kemudian diolah menggunakan algoritma kompleks untuk menghasilkan skor kesejahteraan.
Metode multidimensi diterapkan oleh BPS. Penilaian tidak hanya melihat penghasilan, tetapi juga kondisi fisik rumah seperti dinding, lantai, dan atap. Kepemilikan aset seperti motor, kulkas, dan TV juga menjadi faktor penentu.
Akses sanitasi, sumber air, listrik, hingga kepemilikan lahan turut diperhitungkan. Semakin banyak indikator kemiskinan yang terpenuhi, skor desil akan semakin rendah.
Pemutakhiran data umumnya berlangsung setiap 2-3 tahun sekali. Sebagai catatan, pemutakhiran terakhir dilakukan pada tahun 2024, dan data tersebut masih digunakan sebagai acuan hingga tahun 2026 ini.
Tabel Lengkap Arti Angka Desil 1 Sampai 10
Agar lebih mudah memahami posisi kesejahteraan dalam DTKS, berikut rincian kategori desil beserta implikasinya terhadap peluang mendapatkan bantuan sosial:
| Kategori Desil | Kondisi Ekonomi | Status Bansos |
|---|---|---|
| Desil 1 (Sangat Miskin) | Sering tanpa pekerjaan tetap, rumah sangat sederhana, sulit penuhi kebutuhan dasar. | Prioritas Utama semua jenis bansos. |
| Desil 2 (Miskin) | Sedikit lebih baik dari Desil 1, kerja serabutan, akses layanan terbatas. | Prioritas tinggi penerima bantuan. |
| Desil 3 (Hampir Miskin) | Di garis batas kemiskinan, penghasilan pas-pasan. | Layak terima Kartu Sembako & Subsidi Listrik. |
| Desil 4 (Rentan Miskin) | Di atas garis kemiskinan tapi rawan jatuh miskin. Penghasilan kecil tetap. | Bisa terima bantuan spesifik tertentu. |
| Desil 5 (Menengah Bawah) | Penghasilan cukup sehari-hari, tanpa tabungan signifikan. | Bukan prioritas bansos reguler. |
| Desil 6 (Menengah) | Ekonomi relatif stabil, cukup untuk kebutuhan pokok & hiburan. | Umumnya tidak dapat bansos. |
| Desil 7 (Menengah Atas) | Hidup nyaman, punya tabungan stabil. | Tidak layak menerima bansos. |
| Desil 8 (Mampu) | Ekonomi baik, penghasilan di atas rata-rata, punya aset berharga. | Tidak butuh bantuan pemerintah. |
| Desil 9 (Kaya) | Penghasilan tinggi, bisnis/profesi mapan. | Wajib pajak aktif. |
| Desil 10 (Sangat Kaya) | Top 10% sejahtera, properti & investasi besar. | Kontributor pajak utama. |
Perlu diingat, batasan ini tidak bersifat mutlak. Pertimbangan khusus seperti disabilitas, lansia tanpa penghasilan, atau anak yatim piatu bisa membuat seseorang tetap menerima bantuan meski desilnya lebih tinggi.
Cara Praktis Cek Desil Keluarga
Terdapat tiga metode utama untuk mengetahui status desil keluarga. Cara pertama adalah melalui Aplikasi Cek Bansos resmi dari Kemensos yang bisa diunduh di Play Store.
Setelah mengunduh, pilih menu “Cari Penerima Manfaat”, masukkan NIK KTP atau Nomor KK, lalu klik “Cari Data”. Informasi desil akan muncul jika terdaftar.
Cara kedua adalah via website cekbansos.kemensos.go.id. Cukup pilih wilayah domisili dan masukkan nama lengkap sesuai KTP. Data akan tampil jika ada dalam sistem DTKS.
Cara ketiga yang paling akurat adalah datang langsung ke Kantor Dinas Sosial kabupaten/kota setempat. Bawa KTP dan KK asli beserta fotokopi, serta surat pengantar RT/RW jika diperlukan.
Petugas akan mengecek langsung di database master DTKS. Jika data tidak ditemukan, kemungkinan besar belum pernah disurvei BPS atau data belum diperbarui, bukan otomatis berarti masuk kategori mampu.
Meluruskan Mitos dan Fakta Seputar Desil
Banyak kesalahpahaman yang beredar di masyarakat mengenai sistem ini. Berikut adalah fakta untuk meluruskan mitos-mitos tersebut:
- Mitos Desil 5 Pasti Kaya: Faktanya, Desil 5 adalah kelas menengah bawah yang punya penghasilan cukup tapi tanpa tabungan signifikan. Mereka bisa jatuh miskin saat krisis, namun prioritas bansos reguler memang untuk Desil 1-4.
- Peran RT/RW: RT/RW tidak berwenang menentukan penerima bansos. Mereka hanya membantu verifikasi dan administrasi surat pengantar. Keputusan final ada di sistem DTKS berdasarkan survei objektif.
- Kepemilikan Aset: Punya motor tua atau TV bekas tidak otomatis membuat desil melonjak tinggi. Skor dihitung dari kombinasi puluhan indikator dengan bobot masing-masing.
- Desil Bersifat Statis: Angka desil bisa berubah. Jika ekonomi membaik, desil bisa naik, dan sebaliknya. Pembaruan dilakukan secara berkala.
- Tidak Terdaftar DTKS: Tidak terdaftar bukan berarti dianggap kaya. Bisa jadi keluarga tersebut memang belum masuk radar survei BPS.
Mengapa Desil Tinggi Meski Kondisi Sulit?
Sering muncul pertanyaan mengapa angka desil tinggi padahal realitas ekonomi sedang sulit. Salah satu penyebab utamanya adalah data yang belum terupdate.
Bisa jadi saat survei kondisi keluarga masih baik, namun kemudian terjadi PHK atau musibah yang belum terekam di DTKS. Selain itu, sistem scoring menggunakan indikator fisik yang terlihat (observable).
Jika rumah terlihat permanen, skor akan tinggi meski penghasilan sebenarnya anjlok atau punya utang besar. Human error saat input data survei juga bisa menjadi faktor penyebab.
Prosedur Perbaikan Data DTKS
Jangan khawatir, jika data dirasa tidak sesuai, terdapat mekanisme resmi untuk mengajukan perbaikan. Berikut langkah-langkahnya:
- Siapkan Dokumen: KTP dan KK (asli & fotokopi), Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari kelurahan, bukti penghasilan, foto kondisi rumah, dan dokumen pendukung lain seperti surat PHK atau sakit kronis.
- Mulai dari RT/RW: Minta surat pengantar dari RT/RW setempat. Bawa dokumen tersebut ke kelurahan untuk verifikasi dan mendapatkan rekomendasi ke Dinas Sosial.
- Ke Dinas Sosial: Serahkan semua berkas ke Dinas Sosial kabupaten/kota.
- Tunggu Verifikasi: Petugas akan melakukan verifikasi lapangan, biasanya memakan waktu 2-4 minggu.
Setelah verifikasi selesai, data akan diusulkan ke pusat. Proses total bisa memakan waktu 1 hingga 3 bulan tergantung antrean pengajuan.
Layanan Pengaduan dan Bantuan
Transparansi data adalah kunci keadilan sosial. Jika menemukan kendala terkait DTKS atau penyaluran bansos, masyarakat dapat menghubungi saluran resmi berikut:
- Kementerian Sosial RI: Call Center 1500-899 (24 jam) atau WhatsApp 0853-8286-4260. Email: [email protected]
- Dinas Sosial Daerah: Kunjungi kantor Dinsos kabupaten/kota masing-masing.
- Badan Pusat Statistik (BPS): Untuk pertanyaan teknis survei, hubungi (021) 3841195 atau email [email protected]
- Ombudsman RI: Lapor melalui aplikasi LAPOR! atau website lapor.go.id jika pengaduan tidak ditanggapi instansi terkait.
Angka 1 sampai 10 dalam desil bukan sekadar label, melainkan representasi kondisi ekonomi yang menentukan akses hak dasar. Memahami posisi dalam sistem ini penting, namun jangan menjadikannya stigma.
Desil rendah adalah pintu dukungan negara untuk bangkit, sementara desil tinggi bukanlah jaminan keamanan abadi. Jika data tidak sesuai realita, manfaatkan hak untuk mengajukan perbaikan agar bantuan benar-benar tepat sasaran.





